Peluang Investasi PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 27 June 2012 11:58

A.    Gambaran Umum
Setelah lama menjadi ibukota kabupaten Kepulauan Riau, kemudian dengan Peraturan Pemerintah Nomor 31 tahun 1983 tanggal 18 Oktober 1983 Tanjungpinang ditetapkan sebagai Kota Administratif.
Selanjutnya pada tahun 2001 sesuai dengan UU Nomor 5 Tahun 2001 tanggal 21 Juni 2001, Kota Administratif menjadi Kota Tanjungpinang. Dan saat ini Tanjungpinang menjadi Ibukota Provinsi Kepulauan Riau.
Posisi Kota Tanjungpinang berdekatan dengan Kota Batam sebagai kawasan perdagangan bebas, Singapura, Johor Malaysia, dan terletak pada posisi silang perdagangan dan pelayaran dunia, antara timur dan barat, antara samudera Hindia dan Laut Cina Selatan. Kondisi ini menjadi asset berharga yang dapat mendukung prospek perkembangan Kota Tanjungpiang ke depan.
Kota Tanjungpinang dapat dijangkau dengan pesawat udara dari kota-kota besar Indonesia maupun dunia, melalui Bandara Internasional Hang Nadim Batam dan dilanjutkan dengan kapal ferry, atau melalui Bandara Raja Haji Fisabilillah. Dari Singapura dan Johor, Kota Tanjungpinang dapat ditempuh dengan waktu 2 jam menggunakan kapal ferry ke pelabuhan Seri Bintan Pura.

1.    Letak Geografis
Kota Tanjungpinang berada di pulau Bintan dengan letak georafis berada pada 0o 51’ sampai dengan 0o 59’ Lintang Utara dan 104o23’ sampai dengan 104o34’ Bujur Timur.
Batas batas wilayah administrasi Kota Tanjungpinang adalah sebagai berikut :
Utara     : Kabupaten Bintan dan Kota Batam
Selatan    : Kabupaten Bintan
Barat    : Kota Batam
Timur    : Kabupaten Bintan

2.    Keadaan Geografis
Wilayah Kota Tanjungpinang mencapai 239,50 KM2 dengan keadaan geologis sebagian berbukit-bukit dan lembah yang landai sampai ke tepi laut. Luas wilayah Kota Tanjungpinang mencapai 131,54 KM2 luar daratan dan 107,962 luas lautan.
Secara geografis, posisi Tanjungpinang sangat menguntungkan mengingat letaknya yang dekat dengan Negara Singapura dan Malaysia, serta berdekatan dengan selat malaka yang menjadi jalur transportasi Internasional, hal ini merupakan salah satu daya tarik bagi para investor untuk menanamankan investasi di Kota Tanjungpinang.
Secara administrasi, Kota Tanjungpinang mempuyai 4 Kecamatan dan 18 Kelurahan.

B.    Kependudukan
Penduduk merupakan modal dasar pembangunan, termasuk pembangunan dalam bidang penanaman modal. Pada tahun 2011 penduduk di Kota Tanjungpinang mencapai 196.910 dengan tingkat pertumbuhan penduduk sebesar 3,22 persen. Dengan luas kota Tanjungpinang sebesar 293,5 KM2, penduduk kota Tanjungpinang memiliki tingkat kepadatan 822 jiwa per KM2, hal ini memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa Kota Tanjungpinang masih bias dikembangkan karena memiliko lahan yang masih bias dikembangkan khususnya untuk investasi di bidang Kontruksi dan beberapa sector turunannya.

Luas  wilayah, penduduk dan kepadatan menurut kecamatan di kota Tanjungpinang dapat dilihat dari tabel berikut :
Kecamatan    Luas (Km2)    Penduduk    Kepadatan (per Km2)
(1)    (2)    (3)    (4)
1.    Bukit Bestari    69,0    62.504    905
2.    Tanjungpinang Timur    83,5    78.189    936
3.    Tanjungpinang Kota    52,5    14.050    267
4.    Tanjungpinang Barat    34,5    42.167    1.222
2011    239,5    196.910    822
Sumber : BPS Kota Tanjungpinang

Berdasarkan kepadatan penduduk di masing-masing kecamatan, kecamatan yang paling padat yaitu Tanjungpinang Barat dengan tingkat kepadatan 1.222, kecamatan ini sudah sangat susah dikembangkan lagi, daerah yang memiliki potensi untuk dikembangkan di bidang kontruksi dan turunannya yaitu kecamatan Tanjungpinang Kota dan Tanjungpinang Timur, hal ini sangat wajar mengingat kepadatan di wilayah tersebut masih dibawah 1000 sehingga wilayahnya masi bias dikembangkan khususnya dalam bidang investasi sector perumahan, dikedua kecamatan tersebut memiliki kepadatan yang relative kecil walaupun menurut sebarannya di kecamatan Tanjungpinang Timur merupakan penduduk paling padat dan di wilayah Tanjungpinang Kota kepadatan penduduknya relative paling kecil dibandingkan kecamatan yang lainnya.

C.    Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi diukur dari PDRB atas dasar harga konstan 2000. Sehingga pertumbuhan ini sudah tidak dipengaruhi factor harga atau inflasi, maka bias diartikan benar-benar murni disebabkan oleh kenaikan produksi seluruh sector pendukungnya.
Secara riil, laju pertumbuhan ekonomi yang diukur dari besaran PDRB atas dasar harga konstan, mengalami pertumbuhan 7,06 persen pada tahun 2011, yaitu 2.530.705,74 juta rupiah tahun 2010 menjadi 2.709.497,54 juta rupiah tahun 2011. Pertumbuhan produksi yang dihasilkan dari seluruh sector yang ada di Kota Tanjungpinang masih berada pada kisaran angka 7 pada dua periode tahun belakangan ini, hal tersebut pula yang menjadi gairah dalam meningkatkan kegiatan pembangunan di Kota Tanjungpinang yang merupakan Ibukota Provinsi Kepulauan Riau.

RENCANA PENGEMBANGAN INVESTASI
1.    Bukit Manuk

Bukit Manuk berlokasi dikelurahan Senggarang yang merupakan bukit tertinggi di Kota Tanjungpinang, dengan areal seluas 48 Ha dan lahannya dimiliki oleh Pemerintah Kota Tanjungpinang. Jika kita berada dipuncak Bukit Manuk kita dapat melihat Kota Tanjungpinang secara menyeluruh. Kawasan ini sangat potensial dikembangkan menjadi Kawasan Wisata Alam.
2.    Tanjungpinang FTZ Dompak Senggarang
Sebagian wilayah Kota Tanjungpinang tersmasuk dalam KPBPB atau Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, Free Trade Zone. Wilayah yang menjadi areal FTZ tersebut adalah Dompak dan Senggarang. Untuk mengakomodasi sejumlah kegiatan didalam kawasan FTZ (Free Trade Zone) Dompak, terbagi kedalam tujuh zona dimana tiap-tiap zona memiliki karakteristik kegiatan yang berbeda-beda, yaitu zona industry, pengolahan ekspor, logistic, jasa keuangan, techno park, pariwisata dan olahraga.
3.    Pantai Kelam Pagi
Kawasan Kelam Pagi meliputi area daratan dan laut seluas 125 Ha yang teletak di Kelurahan Dompak Kota Tanjungpinang. Kawasan ini direncanakan untuk dikembangkan menjadi area wisata pantai. Potensi yang dapat dikembangkan untuk investasi terletak di kawasan darat, pantai pasir serta hutan bakau.
4.    Air Raja
Kawasan Air Raja akan dikembangkan sebagai Kawasan Eco Industrial Park, yang dapat meningkatkan kinerja ekonomi perusahaan yang berpartisipasi sekaligus meminimalisasi dampak lingkungan yang terjadi.
Luas keseluruhan Kawasan Industri Air Raja 702 Ha, terdiri dari dua bagian, yaitu kawasan inti yang dikembangkan pada tahap pertama, dengan luas 330 Ha. Tahap kedua, akan dikembangkan kawasan untuk pemukiman yang akan menjadi pendukung kawasan industri seluas 372 Ha.



Last Updated on Monday, 12 August 2013 08:16